Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Desember 2012

Goes to Campus Numpak Kaleng Krupuk(Iyaz Cihuuy)



       Salam super saudaraku yang kuper (Mario Tengil) sedikit saya akan menceritakan bagaimana pilunya perjalanan saya ke kampus Universitas Indramandra eh salah Indraprasta maksud saya, apabila anda tidak cukup kuat untuk membaca cerita saya ini, anda boleh melambaikan tangan kearah dosen anda.
Mungkin sudah cukup sekiranya intermezzo dari saya langsung saja kita saksikan di te-ka-pe.
Suatu sore tepatnya menjelang Maghrib saya langkahkan kaki dengan berat ke mushola dekat rumah saya (maklum orang ibadah itu selalu di terpa godaan-godaan #pelem spongebobnya belom slese men) singkat cerita ibadah solat maghrib saya telah selesaikan se-selasai-selasainya langsung saja saya dengan semangat menuju lemari dan memilih baju mix n max baju lengan panjang dengan levis, baju batik pake celana boxer, kaos oblong gak pake celana, dan akhirnya dengan membaca basmallah sebanyak 3x akhirnya saya telah menetapkan dengan pilihan hati saya dan pak RT setempat (waktu pilih baju pak RT saya undang ke rumah untuk membantu memilihkan baju yang tepat untuk saya pakai) baju lengan panjang kotak-kotak dan levis andelan satu-satunya yang saya punya jadi pilihan saya waktu itu. Singkat cerita ketika saya mau berangkat meninggalkan rumah tercinta dan keluar untuk mengarungi perjalanan yang liar (oke oke menurut gua yang satu ini cukup berlebihan) sebagai anak yang soleh dan rajin menabung saya tidak lupa untuk meminta ongkos untuk mengarungi perjalanan yang liar tidak lupa mencium ke 2 pipi, kening dan tangan (Cuma sama emak gua doang kalo babe cukup cium tangan aja *map ya beh bukannya gak mau cium pipi sama kening takut di kira CONG).
            Okeh lanjut cerita saya dibekeli uang cepuluh ribu rupia’ah dan doa selamat dunia akhirat, setelah di bekeli uang dan doa saya menuju kaleng krupuk (vespa kebanggaan walaupun doyan bangat nyusahin) saya selah dan treng teng teng teng (gak pake miring coii langsung idup) dengan membaca basmallah sebanyak banyaknya saya memulai perjalan yang terbilang liar. Berhubung di deket gang rumah saya ada pertamini jadi saya tidak perlu ngantri di pertamina (sekarang isi bensin di pertamina kaya mau ngambil raskin ngantri men) terjadi percakapan yang sangat singkat di pertamini .

TB (tukang bensin) : isi berapa botol mas ?
Saya (IYAZcihuuy) : 1 botol bang
TB (tukang bensin) : dari botol pertama ya mass (ini pertamini men bukan pertamina)
Saya (IYAZcihuuy) : oeh (bahasa alay yang di cetuskan raditya dika)
kaleng udah minum lanjut jalan lagi, singkat cerita lagi asik-asiknya bermacet macet ria di Lenteng Agung (gua selalu berpikir gimana yang di angkot gua aja yang naek motor BT *selanjutnya anda yang berpikir) pas udah mau sampe ISIIP (tanjung barat) ternyata kaleng tidak bersuara (*mati) lalu saya pinggirkan kaleng dengan semangat 45’ (takut ketabrak mobil dari belakang men coz waktu itu kalengnya mati di tengah jalan) pas sampe pinggir saya selah-selah dan apa yang terjadi pemirsah? kaleng gak mau idup juga (*Tanya dalam hati ada apa denganmu kaleng?) berhubung saya orangnya pantang menyerah, saya buka busi dan saya bersihkan, singkat cerita semua saya sudah bersihkan dan apa yang terjadi pemirsah? kalengnya blom mau idup juga pemirsah: ( , akhirnya saya kelelahan saya sambangi warung tidak jauh dari situ saya beli air mineral dan 2 batang rokok, lalu saya berdiam diri seraya berinteraksi dengan kaleng (ya ya gua tau ini kayanya gila tapi ini adalah salah satu cara agar kaleng hidup kembali) setelah 2 hari 2 malem suntuk saya berinteraksi (ya gak lah gua gak kuliah dong) ternyata kaleng hanya berdiam diri dan membungkam knalpotnya akhirnya dengan perasaan lembut dan ke ibu-ibuan saya usap kepalanya seraya mengucapkan *istirahatlah dengan tenang lalu 10 menit berselang saya mencoba untuk selah kembali dan kali ini apa yang terjadi pemirsah? teng treng teng teng teng kalengnya idup kembali pemirsah (vespa gua emang suka kaya gini ngadat kaga jelas kaya abege labil) dengan santai saya kembali mengarungi perjalanan yang liar (iya gua tau, gua udah telat tapi apalah daya kuda besi gua udah udzur) setelah menyebrangi rel kereta api apa yang terjadi pemirsah? tali gasnya putus (dalam hati bertanya *apa iya karena gua blom mandi wajib?)
Berhubung di dunia perkalengan saya sudah melanglang buana (jiah bahasanya ketinggian bang kaya jemurannya mpok Imeh) gua coba akalin dengan cara (udah ya gak usah di jelasin percuma deh gak bakalan ngerti juga) singkat cerita penderitaan yang saya alami blom berakhir pemirsah ketika sampai di kampus saya senderin kaleng di paling pojok (maklum coii kaleng gak punya kaki kecelakaan terus di amputasi) gak lupa gua berjalan ke kamar mandi (jangan pada ngeres deh gua ke kamar mandi buat cuci tangan bukan cuci yang laen) setelah cuci tangan dan cuci yang laen *eh a’im keceplosan* gua taekin tangga satu persatu menuju kelas di lantai 2 dan ngeliat anak-anak pada di luar kelas apa yang terjadi pemirsah? dosennya gak masuk pemirsah sekali lagi DOSENNYA GAK MASUK padahal susah payah gua buat kekampus eh dosennya gak masuk (mungkin kalengnya ngadat juga kali).
Sekian cerita memilukan ini dari saya pemirsah kekurangan hanya milik saya kesempuraan hanya milik Andra n d’backbound salam semangat mendarah daging.
Wassalam :)

Berpacu Dengan Kemacetan Ibukota



Ditengah terik nya kota Jakarta sore ini aku masih memacu kuda besi ku tuk mengantarkan document terakhirku ke sebuah kantor di kawasan Thamrin Jakarta pusat. Ku lihat jam di tangan ku sudah menunjukkan pukul 4 sore ketika aku tiba di gedung tersebut. Segera aku berlari kecil setelah ku parkirkan kuda besi ku. “ duh… mudah-mudahan aku masih bisa sampai di kantor sebelum jam 5”. Gumam ku dalam hati takut aku telat mengejar waktu kuliah.
Pukul 5 sore kurang lima menit ketika ku lirik jam tangan ku setibanya aku di kantor ku. Buru-buru langsung saja ku ambil tas ku dan segera aku pergi ke toilet tuk mengganti pakaian ku. “dert…dert…” Hp disaku celanaku bergetar singkat menerima kiriman sms. Segera ku ambil dan ku baca pesan yang tertera di hp ku. “Kamu kuliah gak” isi sms dari lia teman skelas ku, ternyata. “iya aku kuliah. Sekarang aku lagi siap-siap dulu sebentar. Kamu dah rapi?” balas ku. “udah, sekarang aku lagi mau jalan ke sahid neh. Ya udah aku tunggu di Play ground ya…” balas lya. “iya.” Balas ku singkat. Lalu segera kuselesaikan urusanku mengganti baju yang sempat tertunda.
Ku ambil motor ku di parkiran dan segera kuarahkan ke sahid tuk menjemput lya. “ayo naik,dah hampir setengah 6 nanti kita telat masuk kelasnya pak mirza lagi.” Ujar ku pada lia yang kutemui di depan apt sahid sambil ku serahkan helm padanya. “gak kok…” jawab lia sambil mengambil helm yang kuserahkan padanya, lalu kemudian naik keatas motorku. Baru 200 meter ku jalankan motor ku keluar dari lingkungan apartemen sahid, aku sudah dihadapkan dengan kemacetan yang sangat parah. Sampai-sampai aq harus menempuh 30 menit hingga ke jalan Dr Satrio yang biasanya hanya ku tempuh 10 menit saja. “ tumben macet nya parah banget ada apaan seh ya…” celoteh lya pada ku. “ gak tau neh, kalo dah kaya gini bisa-bisa baru sampe jam setengah 8 neh di kampus” ujar ku. Sesampainya di putaran balik pertama di jln Satrio aku memutuskan untuk memutar balik dan mengambil arah ke blok m saja pikirku. “ya ampun… macet juga lagi ya.” Gerutu ku. “ya udah lah, sabar aja gak usah buru-buru. Pak mirza kan baik dia juga pasti ngertiin kok.”ujar lya. “baik seh baik, Cuma tugas kelompok ku kan aku yang bawa, aku ga enak sama anak-anak kalo sampai telat ngumpulinnya.”
Pukul setengah 7 malam aku baru sampai di jalan siaga pasar minggu, lagi-lagi jalan yang mau ke arah UNAS itu macet total tidak seperti biasanya. Hanya 10 km/h kecepatan yang bisa kutempuh dengan sepeda motorku untuk bisa menembus kemacetan ini. “hmm… ada demo rupanya,ya. Pantes aja macet total begini, jalannya aja di tutup.” Kataku pada lia. “lagi ada demo apa seh tuh?” Tanya lya pada ku. “kayanya seh demo memperingati tragedi unas deh.” Jawab ku. “tragedi unas?” “iya dulu kan sempat ada demo besar di lingkungan unas sampai ada kericuhan dengan polisi yang mengejar para mahasiswa sampai ke dalam lingkungan kampus dan sempat ada korban.” Ujar ku memberi penjelasan.
Pukul 19.15 WIB aku dan lya akhirnya tiba juga di Grafika tempat aku kuliah. Ku parkirkan sepeda motorku dan kemudian bergegas ke kelas ku yang ada di lantai 2. “lho kok ga pada masuk mang ga ada dosennya…?” Tanya ku penuh heran melihat teman-teman sekelas ku masih pada bercanda ria di depan tangga. “gak ada sob, pak mirza sama bu sri hari ini gak masuk. Mereka Cuma ngasih tugas aja tuh.” Kata aris salah satu teman sekelas ku. “walah… wis capek-capek kena macet parah malah ora ana dosenne sing melebu.” Lya ikut bersuara. “terus tugas kelompoknya kapan, ris di kumpulinnya?” Tanya ku lagi pada aris. “Minggu depan, sob sekalian sama tugas yang baru di kasih.” “oooo…..” ujarku sedikit kecewa karena tak ada dosen yang masuk hari ini.
Dengan kejadian yang aku alami hari ini Secara tidak langsung Allah telah memberikan aku pelajaran untuk bisa lebih bersabar dan berjiwa besar menerima kenyataan yang ada bukan hanya mengeluh. Toh, untuk bisa sukses itu butuh kesabaran dan pengorbanan yang besar,bukan...

By: Sobriadi

Selasa, 27 November 2012

Cerpen: Pernikahan LALA *Episode Terakhir*

Akhirnya setelah menunggu satu minggu, kini Pernikahan LALA episode terakhir cin ... yuk mari dilahap, jangan lupa koreksi atau pendapatnya :)

-----------------------------------------------------

“Din … elo sakit ya ?”
“enggak, hari ini aku bener-bener capek banged, aku balik dulu ya.”
“mau gue anter ?”
“enggak usah la, kamu istirahat aja.”
Di metro jurusan Kp. Melayu – Kp. Rambutan aku duduk sendiri, maklum hari itu sudah agak malam jam 9 lewat. Biasanya kalau sudah jam segini metro agak susah didapat, untung aja aku masih menemukan metro … mungkin ini yang terakhir, kalau tidak dapat bisa-bisa aku naik ojek.  Agak sedikit risih memang, karena akhir-akhir ini banyak sekali pemberitaan pemerkosaan diatas kendaraan umum, semoga saja Allah selalu bersama ku.

Malam ini aku tidak bisa tidur, itu karena pikiranku melayang kepada mas hakim, jangan-jangan dugaan ku selama ini benar,  bahwa mas Hakim adalah salah satu calon korupsi. Buktinya, dia selalu memberikan apapun yang diminta lala, entahlah … semoga pernikahan lala bisa berjalan dengan baik.

****
H-3
“Din … kalau gue nanti pergi dari loe,loe baca surat gue yang dilemari itu ya.” Ujar lala sambil menunjuk lemari pakaiannya.
“maksud kamu la ?”
“haduhw … loe itu lola ya din, maksud gue kalau gue nanti pergi, loe jangan lupa baca surat gue, ngerti ?”
Aku semakin tak faham dengan ucapan lala.
“lala aku bener-bener enggak faham sama ucapan kamu, maksud kamu pergi sama mas hakim ?”
Lala mengangguk. Ohw … aku kira pergi ke … sudahlah atak usah diteruskan.

****
Malam H-1
“La … kamu baik-baik aja kan ?”
Aku lihat lala semakin mendekati hari pernikahan, semakin pucat yang lebih anehnya dia tidak bercerita apa-apa denganku.
“gue baik-baik aja kok din, Cuma agak nervous aja besok.”
“itu hal biasa kok la, banyak orang yang merasa nervous saat menghadapi pernikahan, itu namanya sindrom pra nikah … banyak sekali orang yang akhirnya menikah walaupun tadinya mereka takut menikah, tetapi tidak sedikit mereka yang kabur dari pernikahan karena membayangkan pernikahan yang bukan-bukan.”
Lala hanya tersenyum mendengar penjelasanku.
“ternyata loe banyak tahu ya din, gue bersyukur punya sahabat kayak elo.”
“semoga besok pernikahan kamu berjalan dengan lancar ya la.”
“semoga din.” Tetapi tatapan mata lala kosong, seakan-akan dia tak yakin besok semuanya akan baik-baik saja.

*****
Hari ini, aku dan ibu sangat repot di gedung pernikahan lala dan mas hakim, maklum keluarga lala memang tidak ada. Bunga-bunga ucapan selamat telah berderet di pintu masuk, mulai dari teman-teman mas hakim yang di DPR sampai pak edi mantan lala. Aku sendiri belum melihat lala pagi ini, karena sesampainya di gedung aku harus melihat semua persiapan-persiapan mulai dari cinderamata, konsumsi, pagar  ayu, fotografer  alhamdulilah semuanya udah sip. Para tamu undangan juga sudah memenuhi ruangan, wajah mereka terlihat ceria, barusan aku telpon mas hakim, katanya dia sedang di jalan bersama keluarga besarnya. Teman-teman SMA dan kuliah juga sudah banyak yang hadir, Alhmadulilah mereka datang juga.

“hey … din, kamu cantik banget hari ini.”
“eh syarifah …. Alhamdulilah, makasih fah.”
“si lala nya mana din ?”
“oh … dia lagi di dandanin fah, aku juga belum liat si.”
“pastinya cantik benget ya din.”
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan syarifah, lala memang cantik, amat cantik malah,  makanya orang seperti mas hakim bisa suka kepadanya.
“ohw … begini aja gedungnya ?”
Sepertinya suara ini.
“reni ?”
“jadi begini aja gedung pernikahan seorang lala, yang digembar-gemborkan nikah dengan wakil dpr ?”
“maksud kamu apa ren ngomong gitu ?”
“kamu ngertilah maksud aku.” Ia pun tersenyum sinis. Tapi aku bener-bener enggak ngerti maksud reni.
“sebenarnya aku enggak mau datang kesini,  cuma tadi pagi ada berita yang menyampaikan bahwa salah satu wakil dpr yang bernama Hakim Diraja telah tersangkut kasus korupsi bersama nazar dan udin, karena penasaran makanya aku datang kesini.” Tambahnya.
Ya ampun ternyata benar mas hakim tersangkut kasus korupsi , aku pergi meninggalkan reni dan syarifah.
“din … mau kemana kamu.”
“paling-paling dia mau lihat calon pengantin wanita.” Terdengar suara reni setengah berteriak.
Benarkah mas hakim terlibat korupsi ? lalau bagaimana pernikahannya dengan lala hari ini ? bagaimana kondisi lala ? berbagai macam pertanyaan muncul di benakku.  Sesampainya di ruang rias, aku berusaha membuka pintu itu, tetapi tidak bisa sepertinya di kunci dari dalam.
“la… ini aku dini, boleh aku masuk ?”
Tidak ada jawaban, tetapi hanya terdengar suara kunci di buka dari dalam … kreek … pintu terbuka.
“silahkan mba.” Dengan gayanya yang kemayu, seorang cowok tulen mempersilakan aku masuk. Aku baru tahu, kalau tata rias lala seorang banci.
“la …” sungguh aku takjub, melihat lala memakai baju pengantin muslimah lengkap dengan jilbabnya, tata riasnya yang natural membuat kecantikan lala terlihat jelas. Lala pernah bilang sama aku, suatu saat nanti dia akan berjilbab , mungkin ini saatnya menutup auratnya.
“la …” panggil ku lagi.
“jeng lala nya lagi tidur cin …”kata seorang perias yang satunya.
“tidur  ?”
“bener cin … tadi setelah dia memakai baju pengantin ini, dia minta di foto dan setelah itu dia bilang mau tidur.” Dengan gaya khas nya seorang banci, si penata rias itu menjelaskan kepada ku.
“liat deh cin … fotonya cantik pisan euy.” Aku melihat sekilas foto yang terpampang di layar hp lala. Subhanallah, cantik. Tetapi sepertinya ada yang tidak beres dengan lala, biasanya lala kalau mendengar suara sedikit saja, dia pasti terbangun, tetapi ini tidak … Ya Rabb … jangan-jangan lala …
“la.” Panggil ku.
“la.” Aku pun mengguncangkan tubuh lala, tetapi dia tetap tidak bergeming. Aku memeriksa nadinya, Astghfirullah, nadinya tak berdenyut. Innalilahi Wa Inna Ilaihi Rojiun …

-----
Semua orang hadir,  kebanyakan dari mereka memakai baju batik dan kebaya. Ada yang berdandan menor, ada yang natural. Yah … kami datang untuk lala, tetapi bukan untuk kepernikahannya tetapi untuk menganarnya ke perisitirahatan terakhirnya. Mas Hakim juga hadir disana, setelah pemakaman usai, polisi langsung memborgol tangan mas hakim.
“Din … maafkan saya, saya telah mengecewakan sahabat kamu, saya tidak tahu kalau lala bisa senekat ini.”  Aku hanya diam tak tahu harus menyahut apa,
“Din … ini.” Mas hakim memberikan aku sebuah kalung permata, aku berusaha menolak tetapi mas hakim bersikeras agar aku menerima kalung itu.
“Din .. tadinya kalung ini akan sebagai mahar saya untuk  lala, dan sekarang mahar ini sudah tidak ada gunanya lagi din … saya kira lala akan senang jika kalung itu kamu yang memakainya.”
Tiba-tiba seorang polisi mendekat.
“maaf pak, waktu anda sudah habis.”
Kemudian, mas hakim pergi meninggalkan ku,
meninggalkan tatapan orang –orang yang hadir di pemakaman,
meninggalkan pemakaman lala yang masih basah oleh taburan  bunga melati.
Yah … begitulah akhirnya pernikahan lala, polisi menyatakan  lala bunuh diri dengan motif malu karena calon pengantin pria adalah koruptor.

-------

“Din … kalau nanti gue pergi dari loe,loe baca surat gue yang dilemari itu ya.”

Kata-kata itu terngiang-ngiang di otakku.  Setelah pemakaman usai, aku segera ke apartemen lala, kalau memang benar lala menulis surat itu, berarti lala telah merencanakan semua ini.  Aku tak kuat membuka pintu apartemen lala, saat aku masuk, masih terdengar suara lala disini, suara nyanyiannya, canda tawanya.  Perlahan aku membuka pintu lemari yang ditunjuk lala waktu itu. Hatiku memekik, ada selembar amplop berwarna biru muda terselip dibawah baju-baju lala. Aku pun mulai membaca surat itu.


Buat sahabat gue : DINI

Din …
mengenal loe sejak SMA,  membuat gue tambah kagum sama loe, berawal dari kenalan kita di kelas XI-A. Loe  begitu baik, tampak kaget ketika loe mendengar gue tinggal di panti dekat sekolah kita. Hanya loe din … dari dulu sampai sekarang yang masih sama gue. Orang-orang bilang gue sombong, jutek, belagu dan mereka menjauh dari gue, tapi elo din … Cuma elo yang dari dulu gue jutekin, terkadang gue hina dan sering gue caci masih ada disamping gue hingga sekarang. Gue bersikap begitu hanya ingin  tau mana yang bener-bener teman gue, mana yang bukan dan ternyata hanya elo din temen gue di dunia ini dan mungkin mas hakim yang akan menjadi calon suami gue (kalau jadi).

Din … gue mau ngucapin terimakasih banget buat elo, yang udah nemenin gue selama ini. Kalau gue jadi elo, mungkin gue enggak tahan dengan sikap-sikap gue yang seperti itu, dan pergi mencari sahabat-sahabat yang lebih sempurna, tetapi itu enggak elo lakuin din … mengenal loe, gue jadi belajar apa itu arti sahabat.

Din … maaf, sebenanarnya gue enggak ada maksud mengacaukan acara pernikahan gue, yang udah lama gue idam-idamkan kan din, tetapi tiba-tiba saja mas hakim bilang kalau dia salah tersangka korupsi yang 3 tahun lalu dia perbuat, mas hakim bilang dulu dia bener-bener enggak ngerti din … karena dia baru duduk di bangku DPR, dia hanya setuju dan menandatangani tanpa mempelajari semuanya, dan setelah tanda tangan proyek itu, setiap bulan rekeningnya selalu bertambah, waktu dia tanya sama atasannya mereka bilang “itu hasil tanda tangan kamu” tanpa memperjelaskan secara rinci. Inilah Hasilnya din … dia tersangka Koruptor pada pembangunan wisma atlet sea games.

Din … mas hakim cerita, waktu mas hakim ketemu sama nazar dan udin dia liat loe, mungkin itu sebab muka loe pucat sewaktu pulang dari mall, loe lihat mas hakim sama tersangka korupsi pembangunan sea games kan ? mungkin, elo berpikir bahwa mas hakim terlibat korupsi juga dan itu yang menjadi beban loe kan din, kenapa loe enggak cerita sama gue ? Din … pada awalnya memang mereka terlihat akrab sekali, tetapi suasana menegang saat si Udin bilang bahwa mas hakim juga terlibat korupsi yang sama dengan si Nazar dan Udin. Mas hakim kalut din,sedangkan pernikahannya sama gue tinggal seminggu lagi. Dia aja kalut, gimana gue din ? tapi mas hakim bilang sama gue, dia bener nyesel dan dia enggak nyangka kalau itu adalah sebuah korupsi. Tapi semuanya udah telat din …

Din … jujur, gue kaget banget, gue bingung din … disaat hari-hari yang gue tunggu tiba, disaat itu juga mas hakim harus dibawa ke hotel prodeo. Din … elo tau kan, gimana bencinya teman-teman sama gue, pasti mereka tersenyum diatas penderitaan gue din … mereka akan bertepuk tangan, mereka akan bersorak-sorak, gue harap loe enggak ikut dengan euforia mereka ya!  Din … gue enggak kuat melihat itu semua din … gue enggak kuat ngebayangin setelah akad gue,  mas hakim di borgol tangannya didepan para tamu undangan, dan semua para tamu undangan pasti akan bertanya-tanya sama gue, dan mereka akan bilang kalau gue janda kembanglah, pernikahan malang lah … gue enggak sanggup menghadapi itu semua din …

Din … minggu-minggu ini,  adalah hari paling berbahagia buat gue, walaupun gue enggak jadi nikah, paling enggak gue bisa duduk di gedung pernikahan dengan memakain baju pengantin din. Maaf juga kalau gue harus mengakhiri hidup gue dengan cara seperti ini din.

Din … maaf gue meninggalkan elo buat menanggung malu gue,
Maaf … kalau selama hidup gue, gue hanya bikin elo susah
Maaf … kalau gue menjadi pengecut
Maaf … kalau gue harus ninggalin loe sendiri
Maaf … Maaf … Maaf banged din …

Din … gue harap loe nanti dapet jodoh yang baiknya sama kayak elo,
Din … gue harap loe enggak nyesel udah milih gue jadi sahabat loe
Din … untuk terakhir kalinya gue bilang
“GUE …. SAYANG …. BANGET … SAMA … ELO ……”



La … seandainya kamu bisa lebih bersabar, mungkin tidak akan seperti ini jadinya. La …. Aku juga sayang sama kamu la, semoga kamu tenang dialam sana. Amin.

Cerpen: Pernikahan LALA *Part II*

Buat teman-teman yang udah enggak sabar baca cerita Pernikahan LALA sok mangga di lahap sekarang ... komennya jangan lupa :)

----------

“Din … ada lala tuh.”
Lala main ke rumah ?  seingat aku dia belum pernah main ke rumah sejak lulus sma.
“bilang aja aku lagi tidur bu.”
“din … kalau marahan itu enggak boleh dari tiga hari.”
“aku udah enggak marah sama lala kok bu, Cuma masih segen aja ketemu sama dia.”
“din … lala itu butuh kamu.”
Kalau ibu udah ceramah, bisa panjang kali lebar neh urusan.
“iya bu, nanti dini ke depan.”
“jangan lama-lama din, kasian lala nunggu diluar.”
“diluar ? emang ibu enggak kasih dia masuk ? atau emang dia udah enggak mau masuk ke rumah kita ?” tadinya aku berpikir lala sadar, tetapi ternyata duduk dirumah ku saja dia tidak mau.
“hussh … kamu engak boleh soudzon gitu, lala nunggu diluar karena malu, dia ngerasa bersalah banged sama kamu, makanya dia enggak mau duduk kalau bukan kamu yang nawarin.” Setelah berkata seperti itu, ibu ku pun keluar. Sebenarnya aku rindu sama lala walaupun dia terkadang sombong, atau nyebelin tetapi dia sudah kuanggap saudara sendiri.
“jadi …. Mau nunggu diluar terus.”
Lala menoleh kepada ku.
“din …. Maaafin gue ya, gue nyesel ngomong seperti itu sama loe, gue telpon enggak loe angkat, gue sms enggak loe bales, din … tadinya gue cuma niat ngegodain elo doang tapi loe udah keburu pergi.”
Aku masih diam.
“din … loe masih marah sama gue ya ?”
“kenapa kamu nyangkain aku suka sama mas hakim ?” tanyaku.
“Din … kan gue udah bilang sama loe, gue cuma becanda , abis loe dari dulu sampai sekarang gue liat enggak pernah punya cowok, loe tau mas hakim kan ? ganteng, tajir, dan anggota dewan pula, dan anehnya loe sama sekali enggak ada senyum-senyumnya sama tuh orang, kan gue jadi aneh din … lagian disekeliling mas hakim banyak banged cewek yang cari perhatian sama dia dan gue liat cuma elo satu-satunya orang yang enggak kepicut sama dia.” Lala terus nyerocos tiada henti.
“denger penjelasan aku yah NUR  LAILA … aku enggak tertarik sama mas hakimmu justru karena dia anggota dewan, dan waktu sma aku belum pacaran karena memang enggak ada yang aku suka, dan kalau sekarang aku belum pacaran karena aku ingin mencari calon suami bukan pacar.” Ujarku.
“gue si enggak ngerti cara pemikiran elo,tapi  yang penting loe udah enggak marah kan sama gue ?”
aku kembali diam.
“Din kalau elo marah, siapa yang nganter undangan gue ke temen-temen, ayo dong pliss cin, gue kan enggak punya siapa-siapa selain elo  … udah ya enggak usah marah lagi, gue rela loe suruh ngapain aja, yang penting elo enggak marah sama gue.”
Tadinya aku agak sedikit tersinggung sama lala, berarti dia minta maaf sama aku karena dia mau minta tolong sebar undangan. Tapi setelah berpikir lagi, ada benarnya ucapan lala. Setelah tamat SMA lala memilih keluar dari panti asuhan yang mengasuhnya sejak kecil, sedangkan orang tuanya entah kemana!
“baiklah … aku maafin kamu, tapi dengan satu syarat.”
“apa din.”
“kamu harus ikut aku nyebar undangan ke teman-teman.”
“tapi din gue …”
“enggak ada tapi-tapian, kalau kamu enggak mau, aku juga enggak mau nganter undangan itu.”
Akhirnya lala pun menerima persyaratan ku, dan kami pun berpelukan layaknya teletubies.

----
Macam-macam tanggapan teman sma dan kuliah saat menerima undangan dari lala

“eh …dini, ngapain kamu kesini.”
“ini ren, aku mau kasih undangan pernikahan lala.”
“lala.” Mata reni membelalak ketika aku meyerahkan undangan yang panjangnya sekitar 20 centi. Paduan warna pink dan biru muda membuat undangan itu terlihat manis dan elegant, apalagi dilengkapi dengan pita besar ditepinya.
“kamu serius ini undangan lala si anak haram itu.”
“apa loe bilang ?”
Tiba-tiba lala sudah ada dibelakangku.
“aku bilang, ini undangan loe si anak haram ?”
Plak … tiba-tiba saja lala menampar wajah reni.
“eh ren denger loh ya, jangan pernah bilang gue anak haram.”
“loh … emang kenyataannya ko, gue yakin nama ortu di undangan ini nama orang bayaran loe kan ?”
Tadinya lala mau menampar reni, tapi aku cegat.
“udah la, enggak usah diperpanjang.”
“eh din … wajar dong kalau gue marah, bisa-bisa nya dia masih manggil sebutan itu buat gue.” Sambil menunjuk reni.
“ya udah … kalau elo mau dateng silahkan, enggak dateng juga enggak apa, yang mau gue kasih tau sama loe, gue nikah sama anggota dewan.” Sambil tersenyum penuh kemenangan, lala pun menarik tangan ku.
“alah … paling-paling tuh anggota dewan loe pelet.” Teriak reni
Bagusnya lala  tidak mengubris ucapan reni.

----

“lala ? lala yang mana si din ?”
“itu loh fa, yang duduk sama aku.”
“oh cewek sombong itu, dapet jodohnya orang mana din ?”
“wakil rakyat fa.”
“hah  … wakil rakyat, serius lo ?”
“iya bener.”
“pantesan undangannya segede  alaihim gambreng.”
“waduh … kayaknya gue engga bakal dateng deh din, gila gue mau ngado apa kalo nikahannya di gedung ?”
“udah … yang penting kamu dateng aja, lumayan kan dapet makan gratis.” Ujar ku sambil tersenyum
“Ah … dasar loe, ohw ya, si lalanya mana ?”
“dia lagi di mobil fa, lagi enggak enak badan.”
“ohw … ya udah, bilang cepet sembuh sama dia ya.”
“okeh, aku pamit dulu ya fa, assalamua’laikum.”
“waa’laikum salam.”
Sengaja si lala tidak turun, katanya dia takut naik pitam lagi, jadi terpaksa aku berbohong sama ulfa.

----

“subhanallah, kamu dini ?”
“iya bener syarifah, kamu apakabar ?”
“alhamdulilah baik, kamu sekarang ngapain din ?”
“aku jadi bu guru sekarang, sesekali si ngirim tulisan ke media-media gitu.”
“alhamdulilah ya din … oya kamu mau ngapain kesini.”
“aku nyebar undangan.”
“barakallah ya din, semoga jadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.”
Aku tersenyum mendengar kata-kata syarifah.
“syarifah, bukan aku yang nikah tapi lala.”
“oh lala.”
“aku kira kamu, ya udah nanti aku usahain dateng.”

-----

“eh kamu din, tumben ke rumah aku, udah lama ya kita enggak ketemu.”
“iya na, oya ini ada undangan dari lala.”
“kamu masih jadi jongos nya cewek sombong itu din ?”
“jong … apa tadi na ?”
“jongos … jongos itu sama dengan pembantu.”
“ya ampun ko gitu si ngomongnya na, aku udah anggap dia jadi saudara aku na.”
“ya ampun kamu tuh din, mau aja dimanfaatin sama lala.”
“aku enggak ngerasa dimanfaatin sama lala kok na.”
“lah … buktinya,  sekarang lala mana ?”
“dia lagi fitting baju.”
“oh … kamu sendiri kapan nyusul din ?
“Insya Allah dalam waktu dekat , aku akan menyusul na.”
“ok, jangan lupa undang-undang aku ya.”

-----

“ini rumah rio ?”
“iya loe siapa ?”
“aku dini teman sma nya.”
“ya ampun din .. gue kira loe siapa, aku rio elo enggak kenal gue ?”
Rio yang ku kenal dulu, rambutnya gondrong, agak gemuk. Tetapi yang dihadapan ku rapih ini rapih,  rambutnya belah tengah, pakai kacamata dan tubuhnya udah normal.
“iya aku rio, kamu pasti kaget ya, yah maklum tuntutan kerja.”
“bagus dong ri, Allah itu suka keindahan dan sekarang kamu udah indah.”
“yah … bu ustdazah  ceramah, oya ngapain loe kesini ? sendirian ?”
“aku mau nganter undangan lala ri, sama lala tapi dia nunggu didepan gang.”
“gue kira elo yang nikah din, hampir aja gue jantungan.”
“haduhw … udah ya ri, aku balik dulu, kasian lala nunggu didepan.”
“gue anter ya.” Pinta Rio
“makasih ri, tapi enggak usah repot-repot  aku bisa sendiri kok.”

 --------

“lala nikah ?”
“kenapa gung, kok kamu enggak seneng gitu ?”
“enggak gue enggak nyangka aja, orang yang udah lama gue suka akhirnya nikah juga.”
“sabar ya gung, mungkin lala bukan jodoh kamu.”
“iya din, makasih ya, semoga gue sanggup liat dia dipelaminan nanti.”

 -----

 “undangan siapa neh din ?”
“undangan lala ji.”
“gila punya duit dari mana tuh orang beli undangan gede kayak gini.”
“alhamdulilah … lala kan sekarang udah kerja ji.”
“yah … walaupun udah kerja enggak mungkin lala bikin kartu undangan kayak gini din.”
“hah … calonnya anggota dewan din ?”
“iya.”
“o… pantes,  jangan-jangan  tuh orang korupsi lagi.”
“huss … jangang ngomong gitu dong ji, mending kita doain aja semoga pernikahannya lala berjalan sesuai dengan rencana.”

---

Satu minggu aku dan lala pergi menganter undangan ke teman-teman sma rasanya lelah sekali. Hari ini lala meminta aku untuk mengecek semua persiapan nikahnya mulai dari acara, gedung, dekor, fotografer, gaun pengantin dan lain-lain, maklum ini adalah H-5.
“la … sepertinya kamu belum beli cinderamata ?”
“ya ampun din … kok aku bisa lupa ya, padahal cinderamata itu penting din.”
Lala  pun mengambil telpon genggamnya.
“mas hakim …. Aku belum beli cinderamata mas.”
“tuh … kan kamu sibuk mulu, awas aja kalau nanti pernikahan kamu masih rapat, aku akan tarik paksa kamu ha ha …”
“iya … iya … becanda kok, ya udah aku minta anterin dini ya.”
“see you say …”
Lala pun mematikan hpnya.
“din … sekarang kita beli cinderamata yuk, gue tau tempat yang bagus.”
“haduhw… aku capek banged la, tadi aku abis nyuci dan besih-bersih dirumah.”
“ya ampun cin … kalau loe enggak nganter gue, siapa yang bisa gue tanyain nanti ?”
“ok … ok … tapi aku shalat ashar bentar ya.”
15 menit kemudian kami pun berangkat menuju tempat cinderamata langganan temannya lala. Waw … cinderamata nya lucu-dan unik-unik … pensil wayang, gelas imut, bingkai, sendal batik dan harganya pun diatas rata-rata.
“din … sini deh, tas nya lucu enggak ?”
“cantik la … tapi harganya lumayan tuh.”
“barusan aku kontak mas hakim, katanya enggak masalah din.”
“ohw … gitu, ya udah.” Aku menelan ludah … kalau tas ini dibeli sebanyak 1500 dikali dengan harga dibandrol ini haduhw …. Mahal sekali.
“din … elo yakin tas ini bagus ?”
“iya kok bagus.”
“tapi muka lo kok enggak yakin gitu ?”
“la … tas ini bangus banged, malah tas paling bagus yang pernah aku lihat.”
Lala pun tersenyum.
“oke mba gue  pesen tas ini 1500, kalau bisa 3 hari dari sekarang udah sampe ditempat gue.”
“iya mbak, nanti kalau udah tranfer langsung kasih kabar ke saya ya mbak.”
“sipp.” Lala mengancungkan jempolnya yang lentik.
“din … gue laper nih, kita beli makan yuk.”
“oke.”

Lalu mobil lala pun meninggalkan parkiran toko cinderamata Niken, menuju mall terdekat.


“loe pesen apa din …”
Seperti biasa lala kalau ngajak aku makan pasti di restorant jepang.
“aku pesen ume set .”
“wah … loe lagi laper ya ?”
“iya.” Jawab ku jujur.
“ya udah gue juga pesen ume set juga deh.”
Setelah menunggu sepersekian menit pesanan kami pun datang. Menu  Ume Set ini terdiri dari 5 jenis makanan Jepang paling favorit: Tenpura, Sukiyaki, Sashimi, Yakitori dan Sushi ditambah Miso sup. Baru makan beberapa suap, tiba-tiba saja aku ingin ke toilet.
“la … aku kebelakang bentar ya.”
“jangan lama-lama cin … kasian calon pengantin perempuan ditinggal sendiri ha.”
Aku mencari-cari toilet di mall ini, berputar melewati toko baju, beragam tas, sepatu  makanan siap saji … tunggu,  tunggu … rasanya aku mengenal orang yang ada didalam restoran siap saji itu, seseorang yang kukenal ,tetapi dia tidak mengenalku wajar saja … karena dia adalah orang yang paling ngetop di Headline koran minggu-minggu ini putih, dengan hidungnya yang mancung dan face yang kearab-araban, seperti nya aku lebih mengenal orang disampingnya, mereka terlihat akrab sekali, benar … aku sangat mengenali wajah itu …  itu kan mas hakim.

Bersambung …

Selasa, 23 Oktober 2012

Cerpen : Pernikahan Lala

buat kamu-kamu yang lagi BT , moga dengan baca "Pernikahan LALA"jadi enggak BT yah ....

yuk mari dibaca



“Pokoknya loe harus dateng titik.” Ujar Lala kepada ku.

Yah … setelah bergonta-ganti pacar, akhirnya sahabat dekatku lala menikah juga. Entah karena mujur atau apa, lala mendapatkan calon suami seorang wakil rakyat yang berkantor di istora senayan, tetapi entah kenapa, aku kurang suka dengan calon suami lala, dia begitu royal memberikan apapun yang lala mau, mulai dari BB, apartemen mewah, sampai mobil yang harganya milyaran diberikan untuk lala seorang, huh … kontras sekali dengan rakyat Indonesia yang mau makan pake tempe saja susahnya minta ampun.

“Din, elo enggak denger omongan gue ya ?”

“eh… maaf la, emang kamu ngomong apa ?”

“duhw … cin, gue tadi bilang, kalau gue minta loe untuk nyebar undangan ke teman kampus dan teman sma kita.”

“loh ko aku ?”

“ya ialah loe, siapa lagi yang sekelas sama gue dari sma sampai kuliah ? just you.”

“tapi la, ada baiknya undangan pernikahan itu dianter oleh calon pengantin, bair lebih afdhol gitu.”

“what’s ? gue nganter-nganter undangan ke teman sma kita ? haloooo … loe tau kan tempat teman kita itu enggak ada yang layak, lewatin jalan-jalan yang dikanan-kirinya got yang warnanya luar biasa hitam, belum lagi nanti gue harus pasang muka senyum didepan mereka hufft … ogah deh gue.”

“la … biar begitu juga mereka teman kita, lagian aku merasa tersinggung sama kamu, aku kan juga tinggal di tempat seperti la.”

“sory ya cin … gue tuh enggak nyinggung loe, cuman gue mau nunjukin sama teman-teman loe itu bahwa gue sekarang udah hidup mapan, gue yakin mereka akan kaget terima undangan pernikahan gue.” Lala tersenyum sinis.



Aku jadi ingat sewaktu sma dan kuliah dulu, ketika aku pertama kali bertemu lala. Dia adalah teman ku satu-satunya yang tinggal disebuah panti asuhan didekat sekolah.  Semua teman mengejek nya anak haram, hanya aku satu-satunya teman yang tidak mengejek dan menemani kemanapun dia pergi. Otak lala biasa-biasa saja, tetapi entah kenapa dari dulu hingga sekarang lala tidak pernah berubah, sombong, dia tidak pernah sedkitpun menghiraukan ejekan teman-temannya, karena panti asuhan tempat dia tinggal memenuhi segala kebutuhannya. Tidak jarang lala membeli tas atau sepatu bermerek.



Setelah lulus aku dan lala memsuki kampus dan jurusan yang sama, Jurnalistik. Dikampus lala semakin menjadi-jadi, dia selalu berdandan seksi.

“ia, biar cowok-cowok kaya naksir sama aku.” Saat kutanyakan alasan dia memakai pakaian seperti itu.

“kamu sendiri ngapain din pakai-pakaian kuno kayak gitu ?” lala memandang aku dari ujung kaki sampai ujung kepala.

“la … ini bukan kuno, tetapi memang sesuai dengan ajaran islam.” Aku memang berniat memakai jilbab setelah memasuki kuliah. Tidak seperti waktu sekolah setelah pulang, aku akan menggulung jilbabku lalu menyimpannya di tas.



Usaha lala sepertinya berhasil, tidak kurang dari satu minggu dia akan bergonta-ganti pacarnya, seingatku paling lama sebulan. Setelah lulus kuliah lala bekerja di sebuah perusahaan property milik kekasihnya, walaupun sudah memasuki umur 40an, lala enjoy saja.

“la,mungkin kalau ayahmu masih hidup umurnya seperti pak edi.”ujarku suatu ketika.

“haduwh … loe enggak usah nyinggung-nyinggung deh, mau dia seumuran bapak gue, kakek gue yang penting gue suka sama dia titik.”

Tetapi belum genap enam bulan lala putus dengan pak edi.

“sialan din … gue didamprat abis-abisan sama nenek sihir itu.”

“ya udah kamu jangan ulangin kesalahan itu lagi ya la, aku juga sebagai wanita akan mempertahankan keluarga ku.”

“kok elo jadi nyalahin gue si din ? emang si edi nya aja tuh boong ama gue, dia bilang duda ditinggal mati 5 tahun yang lalu, yah gue percaya-percaya aja.” Ujar lala sewot.

Aku hanya tersenyum, ada ya orang seperti pak edi, yang mengaku isterinya meninggal 5 tahun yang lalu. Padahal kemarin dia datang ke apartemen lala, tanpa kekurangan sesuatu apapun. Belum satu bulan putus dari pak edi, lala sudah mengenalkan aku dengan pacar barunya.

“mas … kenalin ini teman baik aku namanya Dini.”

“Din … ini pacar gue, namanya mas Hakim, dia ini anggota dewan loh.” Ujar lala bangga.

Aku tak menyangka hingga saat ini, lala masih bertahan dengan mas hakim, malah sampai ke jenjang pernikahan.

“la … kamu serius sama mas hakim ?”

“ya ampun din … kamu ini gimana si, aku udah nyebar 1500 undangan, kamu masih tanya aku serius atau enggak ?”

“la … aku cuma tanya keseriusan kamu untuk menikah dengan mas hakim, lagian sekarang kan banyak anggota dewan yang dipanggil ke KPK.” Ujar ku mengingatkan.

“jadi loe nuduh mas hakim itu tersangkut korupsi gitu ?”

“aku enggak nuduh la, cuma kamu harus waspada .”

“bilang aja loe iri sama gue, iya kan ?”

“astaghfirullah la, aku kan sahabat kamu, masa kamu berpikir seperti itu ?”

“ya ialah siapa si yang enggak suka sama mas hakim ? ganteng, tajir, anggota dewan pula.”

“la … aku enggak sepicik yang kamu pikir.”

“mana gue tau,kan banyak orang yang berjilbab kaya elo Cuma mau nutupin aib.” Matanya melotot dan  menunjuk jilbab ku.

“la … kamu kok tega si ngomong seperti itu sama aku ?”

“kenapa enggak, lagian gue liat dari sma sampai sekarang, loebelum pernah pacaran atau jangan-jangan loe …” mata lala penuh berputar-putar.

“jangan-jangan apa la ?”

“loe mau denger ?”

Aku mengangguk.

“jangan-jangan kamu L e s b i.”

Kata-kata itu begitu menusuk hatiku, tidak ku sangka lala sahabatku berkata seperti itu. Setelah hampir 8 tahun kami berteman, lala menuduh aku yang bukan-bukan. Aku tidak bisa berlama-lama disini.

“din … loe mau kemana ? din … ? gue cuma ….”

Aku tidak mendengar lanjutan kata-kata lala, aku terus turun dari apartemen lala yang begitu mewah. Aku memang tidak pantas disini. Linangan air mata terus menghujani pipiku. Bersambung ….


Cerpen : Arti Selembar Lima Puluh Ribu Buat Iza

By Izha Aulia in KOSMIT (KOmunitas Sastra Malam IndraprasTa)
Emm .. cerita ini beneran F I K T I F ... jadi jangan ditanya ya, siapa iza, refa, bu jannah apalagi rangga ha ha ha ...

C E K I D O T teman-teman


“cari pinjemin kemana lagi neh ?”
Hari ini iza sedang bingung, karena sampai tanggal 08 juni kemarin gajinya belum keluar di TK Al Falah, dia ingat kemarin siang Bu Fifi bilang.
“za … maaf ya uang gaji kamu mungkin baru keluar minggu depan, soalnya anak-anak belum bayaran.”
Iza hanya bisa menelan ludah, padahal tadi pagi sebelum mengajar dia pinjem uang sama refa teman kost-annya.
“tenang fa, ntar abis pulang ngajar, aku ganti deh uang kamu.”
“bener yah, inget sama yang ini utang kamu jadi tujuh puluh ribu sama aku.”
“iya inget non, pokoknya pulang ngajar nanti orang pertama yang aku temuin adalah kamu okey ?”
Refa hanya mengedipkan matanya, maklum sama-sama anak kost jadi kalau pinjem uang resikonya harus cepat-cepat diganti. Akhirnya dengan senyum yang getir setelah pulang ngajar iza minta maaf sama refa. Iza tau walaupun refa bilang tidak apa-apa tapi iza menangkap kekecewaan dimata refa “maafin aku ya fa.” Ujar iza dalam hati.
Hari ini iza bertambah pusing, gajiannya belum keluar, tanda bensin di motornya sudah memerah, dan yang lebih gawatnya lagi nanti malam dia mesti ngampus soalnya malam ini ada matakuliah “Sosiologi sastra”. Kalau boleh memilih dia mau tidak masuk, tetapi rasanya tidak mungkin karena 2 kali pertemuan berturut-turut iza selalu absen mata kuliah itu, kalau malm ini dia tidak juga kuliah mungkin bisa-bisa dia mengulang tahun depan oh .. tidakkkk … teriak iza dalam hati.
Hari sudah menanjak senja, cacing di perut iza meronta-ronta minta makanan, tadi pagi iza hanya membeli bubur ayam Rp. 3000 dan dari siang sampai sore ini dia belum mengisi perutnya walau dengan sesuap nasipun.
“za ngelamun aja, ikut ibu ke pasar yuk, besok pagi ibu mau ada acara dirumah jadi mesti siap-siap dari sekarang.”
Lama iza berpikir … sekarang sudah jam setengah empat, kalau dia ke pasar sampai abis magrib berarti dia tidak bisa mengikuti matakuliah “Sosiologi Sastra” meskipun dia tidak tau nanti malam kuliah atau tidak, kalau pun nanti datang terlambat percuma saja, karena untuk urusan disiplin pak Mirza sangat ketat, jadi mahasiswa yang telat 0, sekian detik pun tidak akan diabsen.
“tapi … nanti malam iza kuliah bu.”
“enggak sebentar aja kok, ibu cuma mau beli ayam 5 ekor sama kue-kue, takutnya nanti malam ada keluarga yang datang, ibu belum masak apa-apa.”
Iza tidak enak menolak permintaan Bu Jannah, karena Bu Jannah selalu baik kepada iza dan kawan-kawan, tidak jarang bu jannah membawakan nasi lengkap dengan lauk-pauknya ke kostan iza. Rumah bu jannah persis disamping kostan liza.
“okeh deh bu, kita jalan sekarang ya, biar pulangnya lebih cepet.”
Di pasar bu jannah sibuk memilih ayam-ayam segar,  bu jannah selalu menawar setengah dari harga tersebut.
“ayamnya seekor berapa bang ?”
“ tiga puluh dua ribu bu.”
“ dua puluh lima ribu yah ?”
“wah … enggak dapet bu, kalau ibu beli semuanya saya juga engga akan kasih harga segitu.” Jawab tukang penjual ayam itu sinis. AkhirnyaBu Jannah membeli ayam dengan harga dua puluh delapan ribu per ekor di tempat lain, bu jannah juga membeli aneka kue basah seperti risol, pastel, donat, dan lain-lain. Iza membantu Bu Jannah membawa beberapa ekor ayam dan tiga bungkus kue basah. Kami sampai condet tepat jam 18.00.
“Makasih ya za, maaf neh ngerepotin soalnya anak-anak ibu lagi pada kerja.”
“iya bu jannah enggak apa-apa kok, seneng bisa bantu ibu belanja, jadinyakan za tau teknik tawar-menawar he he he.”
“ya udah ibu masuk dulu ya.”
“iya bu.”
Allahu Akbar … Allahu Akbar …
Adzan magrib berkumandang, walau capek dan lelah iza mesti menjalankan kewajibannya yang satu ini. Setelah menunaikan shalat magrib iza bimbang, dia ingin kuliah tapi bensinnya menipis kalau pun dipaksakan bisa-bisa dia ngedorong sampai kampus, mau pinjem uang sama refa orangnnya enggak ada, lagi pula utang yang kemarin saja belum dibayar, mau pinjem ke teman-teman yang lainnya juga tidak mungkin karena hanya iza satu-satunya yang tidak ada kegian hari ini. Tiba-tiba saja embun mengalir dari mata liza “Ya Allah … bagaimana ini ?” ucapnya dalam hati.  Lamat-lamat terdengar suara salam dari bawah, maklum kostan liza ditingkat atas, sedangkan ibu kost dan keluarganya tinggal di lantai bawah. Seperti suara Desi anak Bu Jannah, iza pun melongok kebawah.
“assalamua’laikum.” Benar itu desi, dia membawa sepiring kue emm … sepertinya itu kue yang tadi dibeli pikir liza.
“waa’laikumsalam,  kenapa des ?”
“ini kak iza ada titipan dari mama, desi naik katas ya.”
“naik aja des.” Sesampainya diatas desi memberikan sepiring kue basah itu kepada iza.
“oya kata mama makasih banyak, besok datang ya sama kak refa, kak Nadya pokoknya semua anak kostan disini deh ke ulang tahun desi, terus ini buat ka iza dari mama.” Desi menyerahkan selembar uang lima puluh ribu.
“ohw … jadi besok ulang tahun desi toh, iya-iya nanti ka iza sama teman-teman Insya Allah datang, wah .. enggak usah repot-repot des, kasih ke mama aja ya.”
“kata mama, kalau enggak diterima mama marah kak sama desi dan ulang tahun besok enggak jadi dirayain deh.”desi berkata sambil cemberut, maklum anak itu baru berumur tujuh tahun, jadi dia ingin sekali ulang tahunnya dirayakan, padahal kalaupun iza tidak menerima uang itu perayaan ulang tahun desi pasti akan dirayakan, akhirnya iza menerima uang itu … karena sebenarnya dia sangat membutuhkan uang itu. Untuk membayar cicilan hutangnya sama refa dan membeli bensin.
“terimakasih ya Allah.” Ujarnya dalam hati. Akhirnya setelah desi pergi, iza langsung bersiap-siap untuk kuliah. Waktunya tinggal 30 menit lagi, tak lupa ia mengisi bensinnya dengan full.
Sesampainya di kampus, iza langsung berlari menuju kelasnya dilantai dua. Alhamdulilah .. akhirnya sampai juga didepan pintu kelasnya.
“Assalamualaikum pak, saya boleh masuk kan”
“silahkan, kamu belum terlambat sekarang jam 18.59 lewat 59 detik, sedetik saja kamu telat kamu akan tahu resikonya.”
iza pun melangkah masuk dan siap menerima pelajaran dari pak mirza.

Senin, 22 Oktober 2012

Cerpen : (bukan) Mata Kuliah Favorit!


 
Malam ini ada matakuliah “sosiologi sastra” dikampus hmm … enggak sabar buat ketemu mata kuliah itu. Pasti kamu berpikir kalau aku ngefans berat sama dosennya yang ganteng kayak Brad Pitt ? Tom Cruise ? atau .. kamu berpikir kalau aku sangat menyukai mata kuliah itu ? yuppss … jawabannya kamu SALAH BESAR, yah .. kalau dipikir-pikir mana ada dosen yang ganteng kayak Brad Pitt dan Tom Cruise ? itu hanya ada di sinetron dan FTV aja dan pasti judulnya gini “Dosenku Ganteng Kayak Brad Pitt” atau “Di Kelas Gue Ada Tom Cruise” dan endingnya pun bakal ketebak cuy. Okeh … aku mau jujur sama kamu neh, tapi cukup sama kamu aja jangan sampai teman-teman kampus yang lain tau, sebenarnya setiap mata kuliah ini ada mahasiswa kelas terbang di kelasku, dia itu engga ganteng tapi cute abis, tingginya normal kayak laki-laki lain gitu, trus agak pendiem,  biasa kalo cowok atau cewek kelas pindahan pastinya pendiamnya minta ampun, orang-orang yang kayak gini harus dideketin takutnya dia cepirit dan enggak berani ngomong sama dosen upss engga separah itu kali ha ha ha. “zaaaaa …..” emak pake manggil lagi, enggak tau apa kalau aku lagi ngebayangin punya pacar.
“iya mi.” aku pun keluar dari kamarku.
“sejak kapan kamu manggil emak ganti jadi ummi ?” tanya emak dengan kerut dikeningnya.
“bukan ummi mak, tapi mimi biar keren kayak si aurel gitu.” Kataku sambil senyam-senyum.
“haduw … udah ah kamu ini makannya pake ikan asin aja manggilnya mimi.”
“ye … biarin apa mak sekali-kali gitu bikin hati za seneng, emak kenapa manggil za ?”
“tadi kakak kamu telpon emak, dia bilang netbooknya dan ketinggalan padahal nanti malam mau dipake buat presentasi.”
“terus hubungan sama za apa mak ?”
“ya … dia minta tolong kamu buat nganter netbooknya.”
“hah … nganter netbook riri ke puncak ? nanti malam kan za mesti kuliah mak.”ujarku shock.
“ya ampun sayang kalau bukan kamu siapa lagi ? emak lagi repot bikin kue pesanan orang, dan kalau netbook itu enggak dianter bisa-bisa riri dipecat dari kerjaannya za.” Ucap emak memelas.
Kalau udah ngomong pecat-pecatan aku jadi enggak enak sendiri, karena riri dan emak yang membiayai hidup keluarga, kuliah gue dan motor gue (maklum bapak dan emak udah lama banget bercerai) upss … enggak bisa neh kalau motor ditarik dealer gara-gara riri dipecat. Hirup nafas dalam-dalam lalu aku akan memutuskan hal paling berarti dalam hidup aku … L e b a y ….
“okeh mak, za siap laksanakan tugas ini mak tulisin aja alamatnya, za siap-siap dan panasin motor dulu”. Sekarang jam 10.00 berarti kemungkinan aku sampai disana kurang lebih jam 14.00 dan kemungkinan sampai kampus jam 18.30 atau 19.00 okeh tepat waktu za.
***
Perjalanan menuju puncak memang sangat melelahkan, enaknya touring neh bareng teman-teman. Setelah tanya sana-sini akhirnya Villa Mega Mendung tempat ka riri nginep ketemu juga.
“neh netbook loe.” Dengan tampang gusar aku serahkan sebuah tas hitam yang berisi komputer jinjing dengan merek papan atas.
“makasih ya adekku sayang, kamu emang adik yang paling baik hati sedunia.”
“ye … enggak usah kegeeran loe, sini gue minta 200 ribu buat bensin plus makan gue.”
“gede amat sih mintanya za, kan loe tau sekarang nanggung bulan, 100 aja ya ?”pinta riri
“he he he okeh non.” Tidak sampai 30 menit gue udah ngacir lagi dari tempat riri. Ini demi matakuliah sosilogi sastra upss … maksudnya cowok incaranku ha ha ha.
Jakarta – puncak – jakarta … sungguh hari yang melelahkan, tapi aku tetep semangat buat kuliah, soalnya ini adalah minggu terakhir dan aku masih belum tau nama cowok itu. Jam sudah menunjukkan pukul 18.00 dan posisiku sudah sampai disamping tol jagorawi atau persis disamping gedung antam.
Prittttttt ….
OMG … ada manusia berseragam coklat dengan kumisnya yang tebal kayak pak raden, lengkap dengan sepatu boot dan helm bertuliskan “polisi”
“selamat malam dek.”
“m m m aalam … pak.”
“bisa lihat kelengkapan surat-suratnya.” Aku mengeluarkan STNK dan KTPku, dan memberikannya kepada polisi itu.
“SIM-nya ?” aku tersenyum dengan senyuman yang paling manis, mungkin dengan ini si polisi akan mempersilakan aku untuk melanjutkan perjalanan. Oh …. Tidak … dia mengeluarkan senjatanya dengan berpura-pura menulis di lembar berwarna merah.
“yah .. pak jangan ditilang dong, saya kan mau kuliah pak, tuh didepan kampusnya.” Tetapi polisi itu sibuk melihat STNK dan menuliskan sesuatu di lembar bewarna merah itu.
Hufft … dengan berat hati aku mengeluarkan separuh uang yang kudapat dari riri.
“okeh pak, mungkin dengan ini saya tidak ditilang.” Ketika melihat lembar selembar uang kertasan berwarna biru itu, dalam hitungan detik saja pak polisi itu memberikan STNK dan KTP ku dan mempersilakan aku untuk melanjutkan perjalanan, tak lupa dia juga berkata.
“hati-hati di jalan ya dik.” Dengan senyumnya yang paling manis … hufft …
Aku melirik ke arlojiku, what jam 18.45 … okeh 5 menit lagi sampai di parkiran Grafika, Belok kiri … belok kiri … dan dengan sigap aku menerima kartu tanda parkir yang bertuliskan plat motorku. Aku memarkir beat-ku disebelah cowok berhelm yang sibuk dengan BBnya dan waktu menunjukkan pukul 18.50. aku langsung buru-buru menaiki tangga, belok kanan melewati satu kelas dan akhirnya aku sampai didepan kelas ku, ketika aku akan melangkah masuk tiba-tiba ada yang memegang bahuku dari belakang.
“maaf mba … ini kunci motornya tertinggal di parkiran tadi.”
“m … m … makasih ya.” Dengan gugup aku menerima kunci beatku, ya ampun ternyata cowok yang memberikan kunci motorku adalah cowok yang aku taksir selama ini.
“sama-sama, aku ngejar mbak dari parkiran motor enggak taunya kita sekelas, oh ya namaku rangga.” Jadi dia orang yang sibuk main BB disamping motorku tadi.
“aku liza.” Tepat jam 19.00 aku dan rangga memasuki kelas matakuliah “Sosiologi Sastra” yang diajarkan Pak Mirza Ghulam Ahmad … Thanks god walau kena tilang mungkin kabar baiknya aku jadi bisa kenal dengan rangga.


By : Izha Aulia

Cerpen : INI CERITAKU,APA CERITAMU???”

Pemirsa KOSMIT, kenalin gue Indah.Mahasiswa paling imut deh di kelas S4A.hehehe….Kamu tau ngga’ sie betapa sulitnya perjalanan gue menuju kampus tercinta ini.penuh dengan liku-liku deh pokoknya….Namun ,walau halangan,rintangan,membentang tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran.
            Udah deh ngga’ usah basa-basi,udah capek nulis nich...Kalau bukan karena pak Mirza,ogah deh gue suruh nulis beginian.oya,,,perjalanan gue menuju kampus tuh penuh pengorbanan tau…jarak dari rumah ke kampus yaaa kira-kira 5 km kali ya.pokoknya jauuuuuuuh banget,yaitu dari Pasar Minggu ke Poltangan,tapi bener ngga sie 5km,bensin ajja abiz  5 liter baru nyampe…hahaha kayaknya terlalu lebay dech gue…Singkat cerita aja,perjalanan ini ku ambil dari hari perhama gue masuk kuliah di semester 4. Kalian tau ga sie pemirsa KOSMIT,kalau satu-satunya alasan gue menyukai sosiologi sastra mungkin karena Dosennya kali yaa…tapi ngga juga ah,,,orang Dosennya juga biasa-biasa ajja wew. . .
Tentunya karena anak kelas sebelah kali yaa,,,tuh yang itu tuh….
Awal cerita,sore itu menunjukkan pukul 16.00.saatnya menutup aktivitas di pasar dan back to home.jalan menuju rumah dari pasar kira-kira 10 menit an lah ya…dan akhirnya tiba di rumah dan betapa kagetnya melihat kekasihku tidak terparkir di rumah. . .kemana dia ??? Sibuk ku mencari dengan hati kesal sambil ku bergumam “Dasar bapak Tiri edan,yang punya motor siapa yang makai siapa !!!nggak usah pulang ajja sekalian sampai besok pagi”huft. . .
            Pikiran pun menjadi kacau tanpa kekasih hatiku itu,lalu gimana aku ke kampus nanti ???masa harus naik angkot sieh . . .ya sudahlah akhirnya pasrah juga deh…waktu menunjukkan pukul 18.10,waktumya berangkat kekampus.dan sepertinya tuh malem ini gue emang sial banget,gue berangkat jalan kaki menuju jalan raya.sesampai di sana Oh My God HP gue ketinggalan…Angkotpun tiba didepan mata,dan dengan sangat terpaksa ku menaikinya, , ,dengan rasa mual,pusing menjadi satu,tapi demi Sosiologi sastra apa ajja deh gue lakuin.jangankan angkot,pesawat ajja gue naikin kok. . .asal harga tiketnya dibawah 10 ribu…ada ngga ya tiket pesawat 10 ribu??? lanjut cerita,sebenarnya sie bukan karena Sosiologi sastra kale’tapi karena gue ada janji dengan someone. . .
Dan angkot pun berhenti ngga jauh dari kampus gue.berarti saatnya gue turun,tapi lagi dan lagi Oh My God,Dompetku…Dompetku…Mana Dompetku???Ternyata dan ternyata tertinggal di rumah bersama HP. . .bingung ngga karuan lalu gimana aku harus membayarnya ??????????”Ya Allah tolong aku,kirimkan dewa dan dewi penyelamat untukku.jika yang menolongku,dia cowo’ akan ku jadikan dia pacar keduaku.kalau dia cwe,akan aku pacari pacarnya…”Waktu menunjukkan pukul 18.30,itu berarti jam pertama mata kuliah sudah dimulai sedangkan aku masih sibuk mencari dan mencari berharap ada 2000an yang masih tersisa dalam tas.gimana ini ???? bisa malu nanti kalau aku ngga bisa bayar angkot.malu dan malu yang kurasa,,,Namun,seseorang berhenti entah itu dewa penyelamatku atau dewi penyelamatku,ku tak menghiraukan karena aku terlalu sibuk dengan tasku.
“Neng,,,gimana???mau bayar nggak ???”kata sopir itu yang masih menungguiku” Hemmm..dengan gugup ku menjawab “Maaf  ya Pak,bukan maksud ku tak mau membayar ini angkot,masalahnya uang aku ketinggalan di rumah”.gimana ya pak enaknya???”
“yah si Eneng gimana sie,dapet penumpang satu ngga di bayar pula,mimpi apa aku semalem,ya sudah Neng kalau begitu,Lain kali kalau mau naik angkot di cek dulu uangnya”
Hadeeeh . . .gue di ceramahin. . .yaaa karena gue salah ya hanya kata maaf,maaf dan maaf yang keluar dari mulut,,,Alhamdulillah angkot itu pergi juga,akhirnya gue bebas,walau dengan rasa malu tiba juga deh di depan kampus…haduh kayaknya gue udah ketinggalan mata kuliah nya pak Mirza nich. . .
Hemmm. . . sesampai di parkiran,o. . o. . .kulihat seseorang.oh ternyata Pujaan hatiku. . .So sweet dia menungguku…”Hai yank,kok belum masuk kelas?”Sapaku…”kan lagi nungguin kamu”jawabnya…lalu berkata”oh iya,tadi kenapa kamu lama berdiri di depan dengan sopir angkot???kamu selingkuh ya sama sopir angkot???”hayowww…
ih kamu ngomong pa’an sie yank,ngaco kamu!!!tadi sopir angkotnya ngga punya kembalian sewaktu aku mau bayar”Terpaksa deh gue boonk. . .dan dia hanya tertawa maniz mendengar jawabku…Dan akhirnya ku menuju kelas S4A,dan bertemu dengan salah satu temen,dan berkata”loe tadi angkot di bayarin ya sama dia gara-gara dompet loe ketinggalan???tadi dia sendiri yang cerita”
Haaahhh!!!Astaga jadi dewa penyelamat gue tadi pacar gue sendiri???gumamku dalam hati.berarti dia tau kalau jawabku tadi bohong.pantes ajja dia senyam-senyum…dan sopir angkot tadi ceramahin aku ternyata atas permintaan pacarku dan cuma sandiwara belaka dan bodohnya diriku karena tak tau pacarku datang saat membayar angkot itu karena aku terlalu sibuk dengan tasku...Ya Allah betapa malunya aku…tapi ya sudahlah,semua udah terlanjur…yang ada di otak ku saat ini melupakan masalah angkot tadi dan masuk kelas mengikuti mataka kuliah dengan baik.
“ini ceritaku,Apa ceritamu???”

Rabu, 10 Oktober 2012

rasa

aku mulai tak perduli dengan yang ada d sekitar ku...
semua'a tak pernah sama dan tak ada satupun yang bisa ku mengerti..
datang dan pergi rasa d hati ini tp dalam pikiran hanya satu ..
kau tak pernah pergi walau rasa ini terus berganti dan berganti..
entah apa yang pernah ku lakukan hingga pekiran ini terus ada...
ketika sumua rasa hilang kau ada dalam pikiranku dan mulai masuk lagi k dalam hidup ku ini...