Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Desember 2012

SENJA

Pada senja pernah kuantar asamu
pada senja pernah kulambaikan tanganku
pada senja pernah kutitipkan air mataku
pada senja lambaian tangan kita pilu hilang bersama deru kereta di kotaku
pada senja pernah kita bertemu merajut asa dan cinta
Kini senja tinggalkan arti
kini senja tinggalkan janji
yang tak mungkin terulang lagi................
 
By: Nadya Khairunissa

SAJAK CINTA DAN REMBULAN



Malam larut setiap insan
Aku sendiri pada tepian bangku melihat rembulan
Menatap dalam dalam hatiku
Jauh melampaui gugus gemintang yang tari menari
O, bunga mawar dan melati
Wangimu temani ku malam ini
Aku menunduk
Dan bayang orang orang yang ku cinta membayang di tepian awan
Bidadari menari bermandi perak rembulan
Aku mencari sebuah makna insani
Berkelana dalam alamku
Menjelajahi lekuk sudut dari hatiku
Kehidupan macam apa yang ku jalani ?
Hidup bukan masalah makan nikah dan beranak
Bukan juga gelar kesarjanaan dan pangkat para dewa
Lebih dari itu
Hidup adalah untuk hehidupan
Tikus berlari di antara kakiku
Aku bertanya perihal kehidupan
Sebatang jambu yang layu dengan sayu ia berkata
"Engkau belum mengerti karena belum memberikan buah pada siapa yang ada di bawah dan yang melintas di atas"
Lampu kerucut yang temaram dengan senyum terang mengatakan
"Hidup itu engkau memberi terang, di jalan, jembatan, pekuburan, gedung presidenan. Di mana pun engkau, menerangi siapa saja yang datang"
Melati putih dengan berseri ia berkata
"Hidup adalah engkau memberi wangi, tak peduli orang akan memuji atau menyanjung. Karena hidup adalah wewangian, ia tercium tetapi tak berbenda"
Tanah kusam dengan dahi penuh daki ia berkata
"Engkau bertanya perihal kehidupan ? Engkau akan mengetahuinya bilamana engkau menempatkan diri menjadi pijakan manusia, yang muda maupu yang renta. Menumbuhkan bunga bunga, memberi makan yang lapar, memberi singgah mereka yang lelah"
Sepercik air dingin yang bening dengan tenang ia juga berkata
"Engkau melepas dahaga mereka yang haus, engkau menyegarkan mereka yang gersang, memberi kehidupan di mana engkau tergenang dan membawa kehidupan kemana engkau mengalir. Itu hidup yang sejati"
O, bumi
Aku menatap langit
Bibirku bergetar, air mata ku meleleh
Gemintang yang riang dengan tertawa ia berkata
"Berikan keindah pada setiap siapa yang memandang mu, karena hidup adalah penuh ketakjuban"
Rembulan yang cantik keemasan sambil tersenyum manis ia berbisik lembut di telingaku
"Hidup adalah engkau memberi terang dalam gelap"
Semua memberi jawannya untuk apa mereka diciptakan
Aku menunduk lebih dalam
Mereka yang tercinta
Mataku ku pejam
Ku tarik nafas dalam
Hatiku berguncang, tubuhku bergetar
Suara dari mana menggema mengatakan
" Manusia di hidup untuk menyembah Tuhan-nya, bekerja keras untuk meraih ridho-Nya, dan yang terbaik di antara mu adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya."

 
By : Anton Sugiarto
Cibitung
28 November 2009
pukul 2:32

PERKUMPULAN MAHASISWA



Berkacalah
Tengkorak bapakmu sudah mengapur
Terkubur dalam luka-luka
Kita tenggelam
Karam

Oh, kau yang menggagahi cakrawala
Dimanakah kau letakkan tangan ?

Kaulah api
Kaulah bara
Dimanakah kau letakkan tangan ?
Apa kau ingin bakar bendera ?

Inilah  protes ku
Karena pendidkan tidak menjadikan kita pandai
Karena pendidkan melemparkan kita kepabrik-pabrik

Kaulah api
Kaulah bara
Aku lihat lima ribu kanak-kanak di jalanan kota
Kita tenggelam

Jangan sampai karam
Kaulah api
Kaulah bara
Jangan kau bakar bendera


By: Anton Sugiarto
Kampus Condet
Selasa, 18 Oktober 2011
Ditulis dalam acara Apresiasi Puisi Unitas Bahasa dan Sastra Indonesia Unindra

MEKAR

Aku melihat bunga kuncup di pinggir trotoar, belum mekar indah. Angin menghembusi kelopak mataku. Aku jadi tersadar bahwasanya aku berada di tepi dunia. Dari sini, dari tempatku berdiri hanya bisa kulihat sepandang mata dari dunia. Entah di seberang sana, entah di balik sungai, gunung, dan awan. Sekuncup bunga akan mekar. Aku bayangkan bunga yang sama juga tumbuh di jalanan, di atas batu, di gedung parlemen, di puncak-pucak gunung. Akankah berwarna dunia ini ?
itu hanya angan ku. Sedang yang ada, banyak rumput yang siap mekar dicabut paksa dengan akarnya. Atau di timbun dengan batu-batu cadas. Apakah mereka belum pernah melihat indah bunga mekar ? apakau hidung mereka tidak lagi mampu membaui wangi kembang pagi hari.
Senjakala semakin temaram, aku masih saja di pinggir jalan menunggui bunga ini kapan akan mekar. Apakah nanti malam ? saat purnama malan dua belas memancar cahya peraknya. Atau esok saat matari lembut menyapa bumi.
bunga akan mekar, entah malam atau esok pagi. Seberapa banyak ia di cabuti, lebih banyak ia akan tumbuh lagi. karena bunga bukanlah bikinan masa, ia adalah hakekatnya dunia. Ia tumbuh dari perutnya bumi, ia anak langit.
 
By Anton Sugiarto

Minggu, 02 Desember 2012

SAJAK CINTA DAN REMBULAN

Malam larut setiap insan
Aku sendiri pada tepian bangku melihat rembulan
Menatap dalam dalam hatiku
Jauh melampaui gugus gemintang yang tari menari
O, bunga mawar dan melati
Wangimu temani ku malam ini
Aku menunduk
Dan bayang orang orang yang ku cinta membayang di tepian awan
Bidadari menari bermandi perak rembulan
Aku mencari sebuah makna insani
Berkelana dalam alamku
Menjelajahi lekuk sudut dari hatiku
Kehidupan macam apa yang ku jalani ?
Hidup bukan masalah makan nikah dan beranak
Bukan juga gelar kesarjanaan dan pangkat para dewa
Lebih dari itu
Hidup adalah untuk hehidupan
Tikus berlari di antara kakiku
Aku bertanya perihal kehidupan
Sebatang jambu yang layu dengan sayu ia berkata
"Engkau belum mengerti karena belum memberikan buah pada siapa yang ada di bawah dan yang melintas di atas"
Lampu kerucut yang temaram dengan senyum terang mengatakan
"Hidup itu engkau memberi terang, di jalan, jembatan, pekuburan, gedung presidenan. Di mana pun engkau, menerangi siapa saja yang datang"
Melati putih dengan berseri ia berkata
"Hidup adalah engkau memberi wangi, tak peduli orang akan memuji atau menyanjung. Karena hidup adalah wewangian, ia tercium tetapi tak berbenda"
Tanah kusam dengan dahi penuh daki ia berkata
"Engkau bertanya perihal kehidupan ? Engkau akan mengetahuinya bilamana engkau menempatkan diri menjadi pijakan manusia, yang muda maupu yang renta. Menumbuhkan bunga bunga, memberi makan yang lapar, memberi singgah mereka yang lelah"
Sepercik air dingin yang bening dengan tenang ia juga berkata
"Engkau melepas dahaga mereka yang haus, engkau menyegarkan mereka yang gersang, memberi kehidupan di mana engkau tergenang dan membawa kehidupan kemana engkau mengalir. Itu hidup yang sejati"
O, bumi
Aku menatap langit
Bibirku bergetar, air mata ku meleleh
Gemintang yang riang dengan tertawa ia berkata
"Berikan keindah pada setiap siapa yang memandang mu, karena hidup adalah penuh ketakjuban"
Rembulan yang cantik keemasan sambil tersenyum manis ia berbisik lembut di telingaku
"Hidup adalah engkau memberi terang dalam gelap"
Semua memberi jawannya untuk apa mereka diciptakan
Aku menunduk lebih dalam
Mereka yang tercinta
Mataku ku pejam
Ku tarik nafas dalam
Hatiku berguncang, tubuhku bergetar
Suara dari mana menggema mengatakan
" Manusia di hidup untuk menyembah Tuhan-nya, bekerja keras untuk meraih ridho-Nya, dan yang terbaik di antara mu adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya."
By Anton Sugiarto
Cibitung
28 November 2009
pukul 2:32

KEMBALI



Manusia
Si makhluk kecil
Kembali pada latifatul kesunyian
Kembali pada diri sendiri yang selama ini ia bohongi
Pada titik tepi kemanusiaan
Si makhluk kecil
Kembali kecil
Di hadapan kemaharajaan alam
Ia setitik
Jiwa setitik


by Anton Sugiarto
Ranu Kumbolo
17 November 2012
21.57

Jumat, 23 November 2012

Puisi: TERIMA-KASIH IBU



IBU...rambutmu kini sudah mulai memutih
Kulitmu tak lagi kencang
Penglihatanmu tak lagi terang
Jalanmu kini sudah mulai goyang

Namun..apa yang terlihat
Semua itu tak pernah engkau rasakan
Semua itu tak pernah engkau pedulikan
Aku paham, semua itu demi anakmu

Sepanjang jalan engkau mengais rejeki
Sepanjang waktu engkau berhitung
Berapa laba kau dapat hari ini
Tuk membayar semua letihmu

Engkau tak lagi dapat membedakan
Mana siang, mana malam
Semangat mengalahkan gemetar kakimu
Dan segala rasa lelahmu

Ini semua...untuk siapa?
Hanya untuk anakmu
Anak yang engkau impikan menjadi orang hebat
Mencapai setumpuk asa

IBU...sampai kapanpun,
Anakmu tak kan pernah lupa
Atas semua jasa, do'a dan derita
Keringat yang engkau cucurkan

IBU...engkau sudah terlalu besar, berkorban
Hanya surga yang pantas membayar tulusmu
Hanya Tuhan yang pantas menjagamu
Dunia dan akherat...

IBU...
Anakmu kan selalu merindumu
Do'a di setiap hembus nafas ini
Terima kasih...IBU, untuk semua ikhlasmu
 
By: Khomsa

Puisi: TANDA TANYA




Kutermenung, melihat realita kini

Kumenangis, meratapi
‘bekal’ ku yang belum cukup

Aku takut, sungguh aku menjadi penakut dari sebelumnya

Aku terancam, aku diteror…

Bukan, bukan terancam oleh hukuman aparat

Bukan pula oleh teroris,

Namun,

berita di media yang telah mengancamku

meneror ku setiap hari

dengan berita kriminalnya

skandal sex dan korupsinya
dan bencana alam yang maha dahsyat

Tsunami yang berefek domino,

Gunung yang terus memuntahkan laharnya,

Luapan lumpur yang terus berekspansi menggeser hunian manusia

iklim yang mengkhianati asa petani

Inikah, tanda-tanda dari-Nya ?

Ketika sosialita lebih puas menghabiskan jutaan rupiah tuk sekedar nonton konser

seolah melupakan hebatnya derita kaum proletar

Ketika pornoaksi menjadi jamuan legal yang selalu dipandang dari kacamata hedonis

seolah menyangsikan adanya kehidupan setelah mati

Ketika legalitas hukum hanya dibuat sesuai pesanan sponsor

memupus habis asa keadilan kelas bawah

Ketika wakil rakyat tlah menjelma jadi setan budeg,

Ketika agama hanya sekedar pengisi identitas di KTP saja,

Akankah ini menjadi catatan akhir zaman ?

by: khomsa

Puisi: KATA MATI

Dia mengukir kata mati diatas relung hati ,
Terpaku tajam dengan rantai terkekuh keras 
Tak ada satupun yang mampu mengurai 
Seperti angin menghelus lembut udara.
Meja dan kursi tua itu menjadi saksi sejarah dari peradaban hidup yang pernah terukir.
Kata mati itu selalu dia ingat 
Tak akan pernah mati hingga jasad memisah dengan kata yang tlah di ukir mati..
by: Nadya

Puisi: SABDA

Suratan telah menyatu
Dalam senyum terakhirmu
Tanah kini telah basah
Kembang telah jadi buah
Kau katakan,
"Kemarau berlalu, hujan baru kelabu
Tak usah lagi kau serulingkan
Aku takut tatapan mata orang"
Sabda pandhita ratu
Terucap luluh air mataku

by: Anton Sugiarto
Cileungsi, Bogor
21 Oktober 2012
21.41

Puisi: Habis

Tersisa pedih terhapus semua
Jangan ada air mata semua sirna
Pandang mata ribuan kilatnya
Biar semua ku tantang dada terbuka
Sini jemarimu!
Agar kuat di labuhan kayu
Dendangkan japamantra manismu
Agar tegar di medan laju
Air mata semua sirna
Sendiri aku di tengah laga

Cileungsi, Bogor
21 Oktober 2012
21.50

Puisi: Bersama Angin Malam

Angin malam pembawa rindu.... 
Merdu suara itu terdengar dari balik jendela hati... 
Melepas duka..melepas lelap.. 
Bersama bulan menari dan tersenyum indah dalam kegelapan jiwa. 
Wahai angin malam pembawa rindu...
Sampaikanlah pesanku ini...
Beribu rasa dan asa terhempas jauh seakan terbang jauh melayang... 
Sampaikanlah...sampaikanlah...kepada dia, wahai angin malam pembawa rindu...
Betapa tersiksa raga ini mengenang masa-masa yg sudah berlalu 
Bersama sunyinya malam...termenung dan melepaskan gundah yg seakan mati... 
Wahai angin malam pembawa rindu...sampaikanlah salamku untuknya
By chiko.

Puisi: KATA BENDERA


Dik,
Malam ini kusadari
Kuncup bunga telah membiji
Ku renung
Masa lalu dan yang datang

Dik,
Kataku bukan hatiku
Aku hanya tak sanggup kau jadi belacu
Bila ku tentang
Kuat mereka menghadang
Pakah bila kau yang sambutkan
Selendang kama memudar ?

Tidak dik,
Biar ini ku tangguhkan
Kalau harokah tidak mengijinkan
Bebaslah
Peganglah erat
Juga ini kan ku bawa berlari
Sampai bertemu saatnya nanti

Dik,
Sebenarnya ku tak paham kata-kata
Kataku bukan hatiku
Aku tak tau
Bendera kita beda
Padahal kata kita satu
Aku ingin bebas
Mengikat kata-kata
Bila perlu ku jahit jadi bendera

Apa arti pijaran mata manusia
Pijaran matamulah, dik
Tenggelamkanku
Dalam lautan kata-kata
Dalam lautan bendera

Cileungsi, Bogor
21 Oktober 2012
22.13
by: Anton Sugiarto